Cerita Absurd Seorang Spaceman

Bayangin ada seorang spaceman yang kehidupannya jauh dari kata normal, bahkan absurd banget. Dia nggak cuma floating di luar angkasa, tapi semua yang dia lakukan selalu bikin orang di bumi geleng-geleng kepala kalau diceritain. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, semuanya kayak episode kartun tapi versi realistis.

Pagi-pagi, spaceman ini bangun bukan dari alarm biasa, tapi dari robot kecil yang dia panggil “Tobi.” Tobi nggak cuma nyalain lampu atau bunyi beep, tapi juga nyanyi lagu rap random sambil nyemprotkan kopi ke gelas anti gravitasi. Bayangin, kopi nyemprot-nyemprot di ruang sempit, terus floating sambil muter-muter. Spaceman cuma nangkep gelas sambil bilang, “Eh, Tobi, santai dong, gue mau nikmatin kopi, bukan ngejarin dia!”

Absurditas nggak berhenti di situ. Waktu spaceman mau mandi—iya, mandi di luar angkasa itu harus pakai tabung air khusus—airnya malah sempat melayang-layang dan nyangkut di helmnya. Dia sampai harus ngunyah gelembung air yang nempel di visor. “Lumayan, rasa air mineral, bonus bintang,” katanya sambil ketawa sendiri.

Saat sarapan, spaceman nggak makan cereal biasa. Dia punya ritual unik: dia taburin bubuk cokelat ke permukaan meteor mini yang dibawa dari misi sebelumnya, terus lempar ke udara biar floating. Setelah itu baru disedot pakai sedotan khusus. Katanya, “Ini breakfast versi slow motion, setiap seruput kayak slow-mo film Hollywood.”

Salah satu momen paling absurd terjadi saat spaceman lagi latihan olahraga gravitasi nol. Dia bikin obstacle course mini pakai kabel, tabung oksigen, dan kardus bekas. Tapi yang bikin lucu, setiap kali dia gagal lompat atau nyangkut di kabel, dia nggak frustrasi. Malah, dia ketawa sambil teriak, “Wah, ini baru olahraga anti-gagal, karena gagal itu wajib!”

Hari-hari spaceman itu juga nggak lengkap tanpa eksperimen musik aneh. Dia suka nyoba alat musik versi miniatur di ruang sempit—kadang gitar mini, kadang keyboard mini, tapi efek gravitasi nol bikin suara berputar-putar di ruang, jadi terdengar kayak konser elektronik dari planet lain. Kadang dia ajak robot Tobi “ngamen” bareng, tapi Tobi cuma bisa nge-beep dan nyanyi rap random, jadi jadinya kayak duet absurd.

Yang paling absurd, spaceman ini punya kebiasaan ngobrol sama bayangan sendiri. Kadang dia berdiskusi serius soal filosofi luar angkasa, kadang dia debat kocak tentang siapa yang paling jago di galaksi: dia, Tobi, atau meteor mini yang dia kasih nama “Bambang.” Bahkan dia pernah bikin “rap battle” sama Bambang, lengkap dengan efek suara yang dia rekam sendiri.

Di malam hari, spaceman duduk di dekat jendela stasiun luar angkasa, liat bumi yang berputar lambat, sambil mikirin semua absurditas hari itu. Dia senyum sendiri. “Gila, hidup ini absurd, tapi seru banget. Kalau nggak absurd, aku mungkin bakal bosen mati.” Dan memang, bagi spaceman ini, absurd itu bukan masalah, tapi gaya hidup.

Pokoknya, cerita seorang spaceman itu selalu nggak masuk akal, tapi penuh tawa, kreativitas, dan sedikit kegilaan. Di antara bintang dan meteor, hidup dia absurd, tapi juga bikin dia paling bahagia di galaksi.